Masjid Tua Katangka

Masjid Katangka berdenah bujur sangkar, dibangun di atas areal seluas 610 m2, dikelilingi pagar besi dengan tiang pagar dari tembok, menghadap ke timur, memiliki halaman depan, mempunyai serambi dan ruang utama dan di sekitarnya terdapat makam raja-raja Gowa dan kerabat kerajaan. Bangunan masjid ini menyerupai arsitektur masjid Demak. Struktur masjid berukuran 14,1 x 14,4 meter dan bangunan tambahan 4,1 x 14,4 meter. Tinggi bangunan 11,9 meter. Dinding masjid ini memiliki tebal 120 centimeter yang terbuat dari batu kali yang kokoh.

Atap masjid dari bahan genteng tanah liat dan bertingkat tiga. Antara atap masjid tingkat dua dan tiga (teratas) terdapat pemisah berupa ruangan berdinding tembok dengan jendela di keempat sisinya, diperuntukkan agar sinar dapat masuk dan di puncak masjid terdapat mustaka. Lantai Porselen.

Bangunan masjid ditopang 4 tiang utama yang lingkarannya melebihi orang dewasa, dibuat dengan sistem pondasi cakar ayam, tiang itu dipadukan ring balok beton dengan ring balok kayu peninggalan bangunan lama yang masih dapat digunakan. Tiang penyangga ini berbentuk pilar, berwarna putih. Jumlah tiang diambil dari 4 sahabat Rasul yang utama yaitu Abu Bakar, Umar Bin Khatab, Usman bin Afan dan Ali Bin Abi Thalib.

Masjid ini mempunyai serambi yang menyatu dengan atap utama, berfungsi sebagai ruang peralihan dan juga digunakan sebagai tempat belajar mengaji. Untuk masuk ke dalam ruang shalat utama, terdapat tiga buah pintu.

Bagian mihrab serta mimbar yang terdapat tulisan Arab berbahasa Makassar terbuat dari ukiran kayu. Empat tiang besi bulat berguna sebagai penyangga atap.

Tombak bermata tiga disamping mimbar

Dindingnya meski tidak dilapisi keramik atau porselin tampak sangat terjaga. Lantai dasar telah dihiasi keramik berwarna krem. Lalu ada beberapa kipas angin gantung, sebagai pemberi hawa sejuk saat beribadah.

Mimbar ceramah berada di saf terdepan dengan model semi panggung, di mana bagian atapnya berbentuk prisma, dengan kayu ukuran khas. Kondisi terkini bagian dalam masjid bersejarah tersebut telah jauh lebih modern.

Keunikan masjid ini adalah, walaupun didirikan di Makassar, namun tidak tampak pengaruh arsitektur lokal. Mungkin sebagai bentuk proses akulturasi konstruksi lokal Makassar dan Joglo Jawa (4 tiang besar, serambi, dan 3 pintu).

Adapun foto dari masjid Katangka tempo dulu masih sempat diabadikan. Dulu, ada menara masjid, sekarang menara masjid telah hilang. Dari sumber KITLV Leiden, disebut dengan tulisan: Grote moskee van Gowa, vermoedelijk te Makassar 1910.
Grote moskee van Gowa, vermoedelijk te Makassar 1910

Renovasi
Dalam catatan sejarah, masjid ini sudah mengalami enam kali renovasi. Beberapa pemugaran yang tercatat ialah:

  • Tahun 1818 oleh Mangkubumi Gowa XXX, Sultan Kadir
  • Tahun 1826 Oleh Raja Gowa XXX, Sultan Abdul Rauf
  • Tahun 1893 oleh Raja gowa XXXIV , Sultan Muhammad Idris
  • Tahun 1948 oleh Raja Gowa XXXVI, Sultan Muhammad abdul Aidid dan Qadhi Gowa H. Mansyur daeng Limpo
  • Tahun 1962 oleh Mangkubumi Gowa Andi Baso Daeng Rani Karaeng Bontolangkasa
  • Pemerintah Indonesia 1973, 1978, 1980 dan terakhir 2007 oleh Pemerintah Indonesia dan Swadaya Masyarakat

Sumber :

Anonim, 2010, Masjid Katangka Masjid Tertua di Sulsel, http://daengrompa.blogspot.com, diakses pada tanggal 4 Desember 2010.

Iklan

One response to “Masjid Tua Katangka

  1. salam kenal cika’… blog yang sangat menarik, informatif…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s