Bupati Gowa Kunjungi SD Internasional di Paccinongan

SUNGGUMINASA, TRIBUN-TIMUR.COM – Dua tahun pelaksanaan sekolah bertaraf internasional yang diterapkan di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pacinongang Unggulan di Kecamatan Somba Opu, telah membawa perubahan yang signifikan terhadap kualitas anak didik.

“Sekolah unggulan ini mencapai perkembangan yang menggembirakan, kemungkinan besar percontohan semacam ini akan diperluas untuk mengejar kualitas pendidikan di Gowa,” ujar Bupati Gowa Ichsan Yasin Limpo, seusai meninjau proses belajar mengajar di sekolah tersebut, Senin (11/10), didampingi Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Gowa, Idris Faisal Kadir dan Kepala Bagian Humas dan Protokol Kabupaten Gowa, Arifuddin Saeni.

Ichsan mengamati langsung aktivitas di sekolah yang diasuh 29 tenaga pendidik ini, bertatap muka dengan siswa dan guru, menyaksikan simulasi mata pelajaran dengan sistem komputerisasi dan mendengarkan siswa berdialog dalam bahasa Inggris.

Kepala SDN Pacinongan Unggulan, Jumiati mengatakan, sekolah ini menampung 466 siswa, dengan 29 tenaga guru, sejak memasuki Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), sekolah ini mulai membatasai penerimaan siswa, biasanya setiap kelas 40 siswa, kini yang diterima hanya dua kelas, terdiri 25 siswa tiap kelas, meskipun gratis tapi  seleksinya ketat.

Internasionalisasi pendidikan dasar di lingkungan pemerintahan Gowa ini, sangat berkaitan dengan program Punggawa D’Emba Education yang dicanangkan oleh Bupati Gowa, Ichsan Yasin Limpo untuk melakukan penajaman program pendidikan gratis.

Setelah sukses menerapkan pendidikan gratis dari tingkat SD hingga SLTA, memasuki periode kedua kepemimpinan Ichsan, sektor pendidikan mulai diarahkan pada peningkatan mutu dan kualitas. “Bukan saatnya lagi kita bicara soal pendidikan gratis, yang kita kejar sekarang ini adalah peningkatan mutu dan kualitas pendidikan,” jelas Idris Faisal Kadir.

Menurutnya, program pendidikan di Gowa kini  menjadi percontohan bagi daerah lainnya di tanahair. Hal yang sangat menggembirakan, paling lambat memasuki 2011 Peraturan Daerah (Perda) No 10 tentang Wajib Belajar mulai diterapkan, yang terpenting dari perda tersebut adalah soal  proteksi usia wajib sekolah. JIka ada siswa yang sudah masuk usia sekolah dasar dan tidak disekolahkan, maka orang tua atau yang bertanggung jawab terhadap anak tersebut akan dikenakan sanksi kurungan 6 (enbam) bulan penjara atau denda Rp 50 juta. “Jadi, kalau anak usia wajib belajar tidak di sekolahkan, orangtuanya dikenakan sanksi kurungan 6 bulan atau denda Rp 50 juta,” jelasnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s